jump to navigation

Atap Putih Sejukkan Perkotaaan Maret 16, 2010

Posted by brightmagician in Fakta dan Berita.
trackback

Sebuah hasil studi baru mengindikasikan bahwa mengecat atap bangunan dengan warna putih berpotensi menyejukan perkotaan secara signifikan dan mengurangi dampak tertentu dari pemanasan global.

Riset studi dengan pemetaan komputer atas simulasi dampak atap putih pertama di daerah pedesaan di seluruh dunia menunjukkan bahwa gagasan mengubah warna atap menjadi putih mungkin menguntungkan.

Namun tim studi yang dipimpin oleh ilmuwan di National Center for Atmospheric Research (NCAR) di Boulder, Colo., memperingatkan bahwa mungkin akan ada perbedaan antara konsep dan penggunaan nyata dari atap putih untuk menetralkan peningkatan temperatur.

“Riset kita menunjukkan bahwa atap putih, setidaknya dalam teori, bisa menjadi metode efektif untuk mengurangi pemanasan kota,” kata ilmuwan NCAR Keith Oleson, kepala ilmuwan studi tersebut. “masih belum dipastikan apakah memungkinkan untuk mengecat atap bangunan perkotaan dengan warna putih, tetapi ini menjanjikan penelitian lebih lanjut.”

Hasil riset ini akan dipublikasikan musim dingin nanti di jurnal American Geophysical Union (AGU).

Penelitian ini didanai oleh National Science Foundation (NCF), sponsor NCAR. “Riset untuk mengurangi perubahan iklim adalah topik yang sangat penting,” kata Steve Nelson, direktor program NSF untuk NCAR.

“Apakah subjek penelitian tersebut pada atap putih atau pada dampak penurunan iklim, penting untuk mempertimbangkan umpan balik dan pertimbangan rumit lainnya yang membuat riset pada area ini menjadi sangat kompleks.”

Perkotaan adalah area yang rawan perubahan iklim karena di sana lebih hangat dibanding daerah pinggiran kota.

Jalanan aspal, atap tar, dan permukaan buatan lainnya menyerap panas matahari, menciptakan “efek pemanasan pulau” yang bisa meningkatkan temperatur rata-rata 1-3 derajat celcius atau lebih, dibandingkan area pinggiran pedesaan.

Atap putih akan memantulkan sebagian panas kembali ke udara dan mendinginkan temperatur, seperti mengenakan kaos putih di hari yang cerah lebih sejuk dibanding mengenakan kaos hitam.

Tim studi menggunakan model komputer yang baru dikembangkan ini untuk mensimulasi jumlah radiasi matahari yang diserap atau dipantulkan oleh atap bangunan kota.

Simulasi model yang memberikan ilmuwan sudut pandang ideal dari berbagai kota berbeda di seluruh dunia ini mengindikasikan bahwa jika setiap atap seluruhnya dicat dengan warna putih, efek pemanasan pulau akan berkurang hingga 33 persen.

Ini akan mendinginkan kota-kota di dunia rata-rata -17.39, dengan pengaruh pendinginan terutama siang hari, terutama di musim panas.

Di dunia nyata, dampak pendinginan ini mungkin bisa berkurang karena debu dan cuaca yang menyebabkan cat putih menjadi hitam setelah jangka waktu tertentu, dan bagian atap sebagian atap tetap tidak dicat karena terpakai untuk lubang pemanas dan pendingin.

Selain itu, atap putih punya efek mendinginkan temperature di sekitar bangunan. Akibatnya, tergantung dari cuaca setempat, jumlah energi yang dipakai untuk pemanas dan pendingin ruangan akan berubah, yang akan mempengaruhi temperatur baik di luar ruangan maupun konsumsi bahan bakar fosil seperti minyak dan batu-bara yang sering dikaitkan dengan pemanasan global.

Tergantung apakah AC dan pemanas akan memberikan dampak tambahan, ini bisa meningkatkan atau mengurangi sebagian dampak di atap.

“Tidak semudah mengecat atap dengan warna putih dan kota menjadi dingin,” kata Oleson.

Riset mengindikasikan bahwa sebagian kota akan mendapatkan keuntungan lebih daripada lainnya dengan penggunaan atap putih, tergantung dari faktor seperti letak dan susunan kota. Beberapa faktor yang bisa dipertimbangkan adalah:

Densitas atap. Kota dimana atapnya berdekatan akan lebih dingin.

Konstruksi. Atap yang menyerap sejumlah panas matahari dalam jumlah besar (seperti atap logam dan insulasi kurang baik) akan kurang efektif dalam mendinginkan temperatur luar ketika dicat putih.

Lokasi. Atap putih biasanya berdampak lebih banyak di iklim hangat yang mendapatkan sinar matahari kuat sepanjang tahun.

Sementara model ini belum punya cukup informasi perihal penerapannya di kota-kota tertentu, di kota metropolitan besar tidak menunjukkan perubahan berarti. Contohnya di area New York, akan mendinginkan sore musim panas hingga hampir -16.67 °C.

Tim studi menggunakan model komputer baru yang dikembangkan oleh Oleson dan rekannya untuk melihat dampak perubahan iklim di populasi perkotaan dan melihat pilihan untuk melawan peningkatan temperatur.

Model komputer ini mensimulasi perubahan temperatur di landsekap kota, melihat faktor seperti itu sebagai pengaruh pada atap, dinding, jalan, dan tempat hijau pada temperatur setempat.

Oleson berhasil menghubungkan model komputer ini dengan simulasi komputer iklim di seluruh dunia, Sistem Model Iklim Komunitas berbasis NCAR, sehingga memungkinkan peneliti mempelajari interaksi antara perubahan iklim global dan area pedesaan.

Model baru ini masih belum punya kekuatan untuk meniru arsitektur dan disain kota tertentu. Tetapi tim riset menciptakan konsep kota di dalam model, menggunakan modul densitas populasi, disain kota, dan konstruksi bangunan.

Oleson dan rekannya berencana melanjutkan menyempurnakan model ini untuk menyediakan informasi lebih banyak untuk pembuat peraturan berhubungan dengan melindungi populasi kota dari risiko yang berhubungan dengan hawa panas dan perubahan iklim lainnya.

“Adalah penting untuk mengerti pengaruh perubahan iklim pada area kota, rumah dari kebanyakan populasi dunia,” kata ilmuwan NCAR Gordon Bonan, rekan penulis laporan riset. (National Science Foundation/The Epoch Times/bdn) sumber:erabaru.net

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: