jump to navigation

7 mitos dalam video game Januari 19, 2010

Posted by brightmagician in Fakta dan Berita.
trackback

Perkembangan teknologi yang semakin canggih membuat masyarakat bisa mendapatkan beragam informasi terpercaya dengan mudah. Namun entah mengapa, masih banyak diantara mereka yang memiliki pandangan negatif terhadap video game sehingga memunculkan beragam mitos yang menyesatkan!! Karena itu tidak heran jika banyak pihak terus berusaha untuk mematahkan mitos-mitos tentang video game yang tidak beralasan. Dan berikut ini adalah beberapa contohnya.
1.Mitos : Keberadaan video game memicu epidemi kekerasan yang dilakukan oleh para remaja

The FACT : menurut catatan statistik kriminal di Amerika Serikat, jumlah kejahatan yang dilakukan remaja menurun drastis dalam kurun waktu 30 tahun terakhir. Para peneliti menemukan bahwa orang yang melakukan kejahatan pada umumnya mengkonsumsi lebih sedikit info dari berbagai media. Memang betul bahwa pelaku penembakan di sekolah – sekolah Amerika, yang sebagian ialah remaja, pernah memainkan video game. Namun video game bukan pemicu utama bagi remaja kriminil tersebut untuk melakukan kejahatan, melainkan lingkungan hidup yang buruk serta keadaan keluarga yang berantakan. Jika video game menjadi pemicu utama pelaku kejahatan, maka hanya 10 \% remaja yang tidak akan melakukan kejahatan karena tidak memiliki video game. Tapi hal ini tidak terjadi meski riset membuktikan bahwa 90% pemuda dan 40% remaja perempuan adalah gamer!!
2.Mitos : Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara game berbau kekerasan dengan sifat agresif pada gamer

The FACT: Klaim seperti ini banyak didasarkan pada penelitian – penelitian sempit yang berfokus pada efek media saja. Penelitian semacam ini biasanya mencakup 300 jenis studi akan kekerasan media. Tetapi kebanyakan studi tersebut tidak memiliki hasil kesimpulan yang jelas, dan sebagian besar dikritik atas dasar metodologi yang kurang kuat. Dalam studi – studi ini image media telah diubah dari konteks alaminya dimana subjek dihadapkan pada situasi dan kondisi yang tidak mereka hadapi dalam kehidupan normal, termasuk pada konteks game yang dimainkan. Sebagian studi memang menemukan korelasi, tapi bukan hubungan timbal – balik. Dengan kata lain, hasil penelitian hanya didapat dari satu sisi saja!! Oleh karena itu istilah ‘hubungan’ digunakan, bukan istilah ‘penyebab’ yang dicantumkan. Gamer yang punya sifat dasar agresif memang pada umumnya akan semakin agresif jika memainkan game berbau kekerasan, tetapi bukan berarti semua gamer akan menjadi lebih agresif. Kesimpulannya : sampai saat ini belum ada penelitian yang betul – betul menyatakan video game adalah penyebab utama seseorang berkehidupan dan berkepribadian normal menjadi pembunuh berdarah dingin!!
3.Mitos: anak – anak merupakan pangsa pasar utama video game

The FACT: dulu video game memang terkesan kekanak-kanakan, namun hal tersebut tidak lagi berlaku dalam era millennium ini. Pangsa pasar utama game kini telah bergeser pada usia dewasa, dimana jumlah gamer berusia 18 tahun keatas sudah mencapai 66% dari total konsumen. Game-game pun kini banyak dibuat berdasarkan selera orang dewasa, yang dapat dilihat dari jenis permainan yang ditawarkan. Bahkan tidak sedikit game-game panas yang sengaja dibuat hanya untuk gamer cukup umur. Sayangnya semua game tersebut sering menimbulkan polemik, apabila tidak diikuti d
4.Mitos: Hampir tidak ada perempuan yang memainkan computer game

The FACT: Pada kenyataanya, memang tercatat gamer pria lebih mendominasi daripada gamer wanita, tapi perbedaan jumlahnya tidak signifikan. Apalagi seiring dengan berjalannya jaman, jumlah gamer perempuan meningkat drastis. Bahkan saat ini tercatat jumlah gamer wanita yang bermain web-based game jauh lebih banyak ketimbang gamer pria. Karena game jadi salah satu alat ideal untuk menuntaskan ‘gaptek’, di era pertengahan 1990-an banyak usaha yang mendorong lahirnya desain game yang menarik minat kaum hawa. Salah satunya adalah The Sims yang berhasil menarik minat perempuan, bahkan yang belum pernah menyentuh game sekalipun!! Apalagi kini muncul juga karakter wanita yang kuat dan independent dalam game. Hal ini dipercaya dapat menumbuhkan rasa percaya diri para perempuan untuk lebih mandiri dan percaya diri dalam kehidupan.
5.Mitos: Karena game dapat dipakai melatih prajurit untuk membunuh, efek yang sama berlaku pada gamer yang masih muda

The FACT: seorang psikolog militer bernama David Grossman berargumen bahwa militer bisa memakai game dalam pelatihan agar prajurit lebih berani untuk menembak dan membunuh, Efek ini bisa diadaptasi oleh gamer sehingga mereka bisa menjadi lebih agresif dan brutal dalam kehidupan seharo-hari. Tapi ada banyak celah yang melemahkan argumen Grosman!! Pihak militer memakai game sebagai bagian spesifik dari kurikulum yang sudah disusun dengan tujuan yang jelas, dan dalam konteks dimana si pelajar mau secara aktif belajar dan mencari info yang dibutuhkan untuk menjadi prajurit yang baik. Tapi gamer diluar pendidikan militer hanya bermain game untuk kesenangan, refreshing, dan berada pada situasi yang tidak mendesak mereka untuk membunuh. Orang yang berada pada situasi yang berbeda tentu bakal memiliki tujuan berlainan, serta efek yang berbeda pula ketika memainkan game.
6.Mitos: Video game membuat gamer anti-sosial

The FACT: Mitos ini salah besar!! Saat ini sekitar 80% game yang beredar dipasaran mengedepankan sisi sosial. Lihat saja jumlah player yang bisa bergabung dalam memainkan sebuah game yang makin banyak. Ada pula penelitian yang menunjukkan 60% gamer lebih suka bermain dengan teman, 35% bermain dengan teman atau saudara, dan 25% bermain dengan pasangan atau orang tua. Game yang dimainkan secara single-player pun bisa memicu jalinan sosial, dimana satu orang mengendalikan game dan yang lain memberi komentar atau sekedar menyemarakkan suasana dengan lontaran expresi. Gamer yang penyendiri bisa belajar sisi sosial kehidupan dari cerita dalam game yang melibatkan karakter dalam berbagai event, yang mungkin bisa mencerminkan konflik atar manusia di dunia nyata. Belum algi saat ini multiplayer game sudah semakin marak dimana sekian banyak gamer bisa bertemu, bermain, bekerjasama sekaligus bersaing.
7.Mitos: Video game membuat gamer terperangkap dalam dunia maya

The FACT: ada penelitian klasik yang menunjukkan perbedaan maksud ketika primata bergulat atau memukul sesamanya untuk bermain, atau untuk bertarung sungguhan. Dalam situasi tertentu primata sangat menikmati permainan gulat dan saling memukul walau nampaknya sangat kasar. Tapi disaat itu primata tahu sekuat mana mereka dapat menyerang tanpa melukai temannya. Hal yang berbeda terjadi ketika mereka bertarung untuk mempertahankan daerah kekuasaan, dimana pertarungan sangat brutal dan dapat menghilangkan nyawa. Penelitian ini juga dijadikan acuan untuk kita yang bermain game. Gamer yang normal (tidak memiliki gangguan jiwa) pada dasarnya tahu bagaimana cara membedakan dunia nyata dan dunia virtual(maya). Permainan dalam dunia virtual membuat kita senang serta dapat mengekspresikan apa yang tidak dapat dilakukan di dunia nyata. Jadi bermain game berbau kekerasan sebetulnya dapat menjadi saluran ekspresi yang positif. Ketika kita puas menghajar orang di dunia virtual, gamer tidak perlu memikirkannya lagi ketika menjalani hidup di dunia nyata.

Sumber : gamestation vol 144

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: